Sertifikat Menyusui Penuh

 

Mau sedikit cerita soal menyusui. Perjalanan sebentar yang terasa panjang di awal dan amat melelahkan. Mungkin ini lebay dan remeh bagi sebagian orang, “Ah apasih, soal nyusuin aja”. Tapi tidak bagiku. Ini adalah salah satu ikhtiarku setelah melahirkan, dan kini membesarkannya.

Alhamdulillah perjalanan menyusui bayik pertama ini sudah sampai ia memasuki usia 10 bulan. Meski pada akhirnya tidak sampai menyusui ekslusif selama 6 bulan awal. Sebab perjalananku harus terpotong sejenak saat Ahnaf harus masuk ruang perina/fototerapi karena bilibubin tinggi. Makin sedih karena saat itu tidak bisa menyusui langsung akibat peraturan ketat saat pandemi. 
Kenapa tidak sampai eksklusif?
Sebab 24 jam selama bayi di perina, aku dengan amat terpaksa memberikan sufor dengan botol. Sudahlah harus terpisah, masih wajib pompa PD supaya memancing produksi ASI. Ditambah dengan resiko bingung puting setelahnya. 
Setelah kembali ke rumah, kami belajar kembali dari awal. Suami sangat mendukung, dan membesarkan hati. Bahwa apa yang kita lakukan ini semata-mata ikhtiar memberikan yang terbaik untuk anak. 
Tidak ada yang salah dengan menyusui penuh. 
Tidak ada yang salah dengan asi perah. 
Tidak ada yang salah dengan separuh asi separuh sufor. 
Tidak ada yang salah dengan full sufor karena qadarullah. 
Yang keliru adalah ketika kita menyampingkan ikhtiar untuk menyusui dan bermudah-mudahan untuk memberikan sufor tanpa indikasi medis. 
Keliru jika hamil dan menyusui tidak butuh ilmu. 
Fii mastatho’tum. 
Berusaha dengan sungguh-sungguh hingga titik terbaik yang bisa kita perjuangkan. 
Hingga saat ini, perjuangan belum berhenti, masih ada 1 tahun 2 bulan perjalanan. Semoga disampaikan, disempurnakan hingga penyapihan. Aamiin. 
Menyusui dengan ilmu dan iman.
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like