Senja Kemarin

Pagi tadi, langit memerah. Melukiskan warna yang sama dengan senja. Aku yang pagi tadi berniat menjemur baju, tertahan menatap langit. Indah. Teringat kemarin, melingkar bersama mereka. Mereka yang Allah kirimkan sebagai pengingat diri ini, mereka yang Allah turunkan sebagai penjagaan iman. Mereka, yang dengan kehadirannya selalu melecut ghiroh, semangat perbaikan.

Kita berbincang tentang ukhuwah, satu tali yang mengikat hati-hati kami dalam keimanan. Tak dipungkiri jika dalam persaudaraan pasti akan ada gesekan-gesekan kecil penyebab luka. Terlebih lagi segala prasangka yang menyelimuti hati-hati kami. Prasangka yang kadang pembenaran untuk menyalahkan orang lain. Kita tak boleh tinggal diam. Merawat luka yang menganga terlalu lama tentu bukan suatu kewajaran. Kita harus menyembuhkannya. Sesegera mungkin. Sebelum luka itu menjadi lebih serius dan akan lebih menyakitkan jika diobati terlambat.

Sore itu, kami, satu persatu mengutarakan isi hati. Tentang apa-apa yang kami rasai selama di jalan ini. Tentang hal yang menggelisahkan hati. Tentang kawan yang mungkin belum saling tertaut hatinya. Ternyata, di hati-hati kami masih terpancang tebing yang tinggi. Hari itu juga kami runtuhkan. Meski, tak semuanya hancur. Meski hanya sebagian. Semoga itu pertanda baik. Allah semakin eratkan kami, dalam kasih sayangNya yang hakiki.

Ya Rabb, bantu kami saling menjaga dalam ketaatan. Sebab Engkaulah pemilik hati-hati kami, maka hanya Engkaulah yang bisa menyatukan kami dalam penjagaanMu yang indah. Jagalah kami ya Rabb… Aamiin...

Depok, 09 Maret 2018
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Abai

Sebab dirimu diabaikan. Karena dirimu abai pada setiap orang. Ya, sudah seharusnya. Jika kita sakit tertusuk duri, satu2nya…