Review Buku: Cinta Adalah Perlawanan


azharologia.com

“Aku mencintaimu karena aku memilih untuk mencintaimu – itu saja. Bukankah cinta lebih butuh pembuktian daripada alasan?”
Azhar Nurun Ala

Sore itu setelah melalui padat dan pengapnya mini bus saat perjalanan pulang menuju Depok –kota sejuta asa-, menuju rumah lebih tepatnya sih. Sepasang mata ini segera menuju pada dua bundel paket kiriman abang JNE. Hehehe. Paket yang ditunggu-tunggu, dua-duanya berisi buku-buku dari dua pengirim berbeda. Yuhuu! Buku, yah meskipun dibilang minat baca saya kadang angot-angotan tapi lumayan rutin beli buku sebulan sekali lah. Kalau ada uang jajan lebih boleh lah beli yang banyak. Wkwkwk. Out of topic nih kayaknya ya. Mianne! 😀
Salah satu buku yang covernya sweet banget menjadi sasaran saya untuk melahapnya. Hohoho, berlebihan. Cinta Adalah Perlawanan, kenapa harus perlawanan? Humm, harus segera dituntaskan membacanya nih. Secara tebal buku ini hanya setebal 150 halaman, yang biasanya novel bisa habis dilahap hanya dalam waktu seharian. “Ah, bukunya paling sehari juga kelar” pikirku. Meremehkan banget nih, maafkan atuh yah. Ternyata saya gak cukup sehari membaca buku ini. Kena tula deh saya. Tahu tula? Sama artinya dengan pamali, suaminya bumali yang terkenal itu. Wkwkwk.
Seminggu kurang satu hari, buku ini sukses membuat saya baper. Quote di awal tulisan ini contohnya. Ternyata dipersembahkan khusus untuk isteri beliau. Eh salah ya? Bukan satu-dua quote aja deng. Tetapi seluruh bukunya. Lantas saya menyesal? NGGAK. Bagi saya, diizinkan untuk membaca kisah perjalanan rasa (cinta) seseorang itu sesuatu yang sangat berharga. Terkadang kita merasa ada beberapa tulisan yang episodenya mirip dengan kita. Entah soal kejadian, waktu, atau perasaan yang sama itulah istimewanya. Ternyata, ada seseorang yang begitu hebatnya berjuang, memerjuangkan perasaannya. Ada orang-orang yang merayakan hidupnya dengan tulisan-tulisan sederhana, dan banyak orang membaca dan ikut menyimak kisahnya melalui tulisan itu. Suatu hari, tulisan itu sampai kepada orang yang tepat. Muara dari segala perasaan bagaimana tulisan-tulisan itu bermula.
Salah satu tulisan yang sukses bikin bulu kuduk merinding, saat  Bang Azhar mulai mengagumi Mbak Vidia. tulisannya harus saya jabarkan di sini nih? Haduh, entar saya baper lagi. ~( -_____- “~)
Baiklah, berikut tulisannya, cekidot :

Keheningan jadi singgasana kita: aku raja dan kau ratunya.

Dalam keheningan itu, sesungguhnya begitu banyak hal yang ingin kusampaikan. Meski tak lebih banyak dari apa yang ingin kudengar darimu. Tentang isi hati dan kepalamu.

Juga tentang bunga yang ada di dalam hatimu, adakah ia mekar seperti milikku?

Seandainya memang tak ada bunga yang mekar di dalam sana. Kalaupun rasa itu memang tiada. Demi hati yang telah kurelakan untuk kau tawan, relakah kau berbohong lalu katakan saja bahwa cinta itu ada?

Kau tahu, cinta adalah mata air sementara keraguan adalah sumbatan-sumbatan yang membuatnya tak mengalir. Maka yakinkan dirimu dan biarkan aku tahu apa yang kau rasakan, karena keterdiaman telah membuatku bosan, meski cinta tak mungkin layu dibuatnya.

Berhentilah membisu dan katakan sesuatu.

Katakan bahwa adalah cinta yang bergemuruh di dalam hatimu. Meski yang sesungguhnya tak seperti itu. Aku terlanjur tertipu oleh apa yang kureka sendiri–aku terlanjur hidup dalam ilusi yang aku ciptakan sendiri.

Katakan bahwa rindu yang membawamu ke hadapanku hari ini, sebagaimana yang lalu-lalu ketika pertama kali kau mengunci langkahku untuk selalu tertuju padamu. Pada waktu yang kau tak pernah tahu. Dalam nyala api yang tak pernah kau raba sama sekali.

Katakan bahwa adalah cinta sejati yang mengikat kita di sini. Meski bukan itu yang sebenarnya terjadi.

Sebab aku tanpamu terlanjur api tanpa udara. Jadi katakan saja.”
Bagaimana mbak-mbak, mas-mas? Ada yang merasakan hal yang sama dengan saya? Perih-perih ngarep gimanaa gitu. Hahaha. Tulisan yang dibuat dengan hati akan sampai ke hati pula. Beliau ini (bang Azhar), awalnya hanya menulis di blog pribadi, kemudian atas desakan fans dan cita-citanya sebagai penulis jadilah buku pertamanya yang berjudul “Ja(t)uh”. Buku jatuh ini adalah kumpulan prosa yang ia kumpulkan dari tulisan-tulisannya di blog, dan….. objek tulisannya adalah sama. Siapa lagi kalau bukan seseorang yang telah ia bekukan dalam tulisan-tulisannya, mbak Vidia. Ahhh, so sweeeeet. 
Geregetan. Rasanya baca buku ini bukan hanya bacaan selintas tahu saja. Di dalamnya, saya dibisikkan, “begini loh ternyata perjuangan seorang laki-laki yang akan menghalalkanmu, deg-degannya bertemu calon mertua serta keluarga besar”, “begini loh ternyata proses yang panjang kita mengamati seseorang ternyata belum cukup untuk mengetahui segala kehidupannya”, “begitu loh ternyata kehidupan di awal-awal pernikahan, proses menyatukan pemikiran dan tentang penerimaan”, dan sangat banyak begini-begitu yang dapat saya jadikan pelajaran. Terharu.
*elap air mata*
Akhirnya saya menuntaskan 150 halaman yang selama 6 hari ini yang menemani kegiatan setiap harinya. Di episode terakhir Cinta Adalah Perlawanan, belum sampai ujung buku ini, saya suka dengan paragraf yang ditulis oleh bang Azhar untuk istrinya.
“Aku akan membawamu ke mana pun kau mau. Kita akan keliling dunia, mengagumi semua tempat indah hasil karya-Nya. Atau kita akan berdiam di rumah saja menanti hujan reda, seperti yang kerap kita lakukan sambil menyeruput teh hangat yang kau seduh dengan cinta. Lalu aku membacakanmu sebuah puisi tentang pagi yang jadi syahdu karena tiga bahan pokok yang berpadu utuh: sinar mentari yang malu-malu, rintik hujan, dan senyum manismu.
Kelak, atas izin-Nya barangkali kita akan menua dan tak lagi saling bicara. Tapi kupastikan tangan kita tak ‘kan kehilangan dayanya untuk saling menggenggam.”
So sweeeet.
Saya harus bilang apalagi selain so sweet? Heu. Pada akhirnya, cinta yang didasari untuk menggapai ridho-Nya adalah cinta yang patut dirayakan dengan ikatan pernikahan. Perjalanan rasa seorang Azhar Nurul Ala dan Vidia Nuarista tidak berakhir di sini saja, tetapi masih banyak yang akan dilalui, menua bersama hingga tiba kedua tapak kaki menyentuh jannah-Nya. 
Perjalanan rasa saya? Masih ada banyak episode yang belum rilis dan belum sampai pada bab pertemuan. Sebatas mengira-ngira dan pura-pura mengiyakan pada rasa yang sama. Persis pembukaan awal buku ini. Masih harus berjuang dan terbang mengejar impian dan cita-cita.

Kalau cinta bertepuk sebelah tangan, lepaskan tanganmu.

Terbang dan kepakkan sayapmu, seluas angkasa biru.”
-Kahlil Gibran

Ditulis oleh Ayu Lindasari
Depok, 18 Maret 2016
0 Shares:
3 comments
  1. Udah sering dengar bukunya tapi baru ini baca reviewnya. Jadi pengen punyaaa, tapi kapan buka order lagi beliau ya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like