Refleksi Menjadi Guru

Apa yang kalian lihat?

Ya, mereka anak muridku tahun ajaran ini, formasi lengkap plus dua orang guru. Bisa gak hitung jumlahnya ada berapa? Hihihi.
Menemani anak-anak belajar di sekolah, untuk pertama kalinya dalam kelas besar. Bukan hal yang mudah, apalagi usia mereka saat ini adalah peralihan dari kelas rendah ke kelas tinggi yang akan mengalami beban belajar yang bertambah. Seringkali, aku gemessss sama kelakuannya. Ya jahil sama temennya, ya ngadu bolak-balik, thawaf di kelas, dan segudang tingkah ajaib mereka.
Sampai-sampai selama jadi guru aku punya hobi baru. Ceramah. Yak, macam Mamah Dedeh, atau penceramah lainnya, mendadak semua rekaman selama ngaji itu terputar kembali. Anak-anak duduk di menyimak, ada yang ‘merasa’ jadi dia menunduk sepanjang aku berceramah.
Tujuanku satu. Aku hanya ingin, teman-teman kecilku ini ‘ngeh’ pelajaran tentang akhlak dan adab. 7,5 jam belajar di sekolah, gak mungkin hanya ngejar akademik dan Qur’an aja, ada juga pelajaran tentang pengaplikasian itu semua dalam kehidupan sehari-hari. Karena di masa depan nanti, bekal akhlak dan adab ini sesuatu yang sangat penting dalam menjalankan kehidupan. Ya salah satunya dengan mengingatkan, memberitahu, memancing daya pikir mereka mana yang boleh dilakukan, mana yang tidak boleh.
Jika anak-anak itu titipan Allah, maka anak-anak yang dititipkan kepada kami di sekolah juga merupakan investasi akhirat yang perlu dijaga sebaik-baiknya.
Harapanku satu, kelak di masa depan jika mereka mengalami hal yang tidak menyenangkan, mereka bisa mengingat hal-hal yang membahagiakan semasa mereka sekolah dulu. Supaya hatinya kuat dan bahunya tegar menghadapi kehidupan dewasa nanti yang mungkin (akan) tak sesederhana saat dirinya kanak-kanak. “Semoga kalian bisa menebarkan kebermanfaatan untuk umat ya ‘nak.” Aamiin
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like