Perempuan Cahaya dan Gadis Kecil

google.com
Perempuan cahaya itu bersimpuh di atas sajadahnya. Sebuah sajadah tua yang sudah dimakan usia, pemberian mendiang suaminya ketika akad nikah bertahun-tahun lalu. Matanya basah, bibir yang sudah keriput terus komat-kamit berdzikir, kedua telapak tangannya menengadah seperti mengumpulkan butir-butir doa yang telah ia gumamkan sejak tahajjud tadi. Adzan subuh berkumandang, tubuh perempuan cahaya itu segera berdiri, tertatih-tatih membangunkan cucunya untuk shalat berjamaah di rumah.


“Tiur, ba…ngun tiur. Kita shalat subuh du…lu” ucapnya lembut.

Tiur mengusap wajahnya, ia ingat rutinitas bersama simbah shalat subuh berjamaah meski di rumah saja. Gadis kecil itu melangkah gontai menuju kamar mandi belakang. Untuk mengambil air, mereka harus memompa terlebih dahulu kadang malas sekali untuk sekedar mengambil seember air untuk wudhu ditambah hawa dingin menusuk tulang, sebab hari itu habis turun hujan semalaman.

Brrrr, Tiur mendekapkan kedua tangan. Tubuh kecilnya seakan-akan menciut lagi setelah terkena air. Ia mengambil mukena kesayangannya. Hadiah dari ustadzah Ifah, guru mengajinya di surau. Wajahnya mengilat bekas air wudhu. Gadis kecil itupun menggelar sajadah di samping simbah. Mulutnya pelan melantunkan iqamah, tanda shalat akan di mulai.

“Alla… Hu Akb..bar” pelan sekali suara perempuan cahaya itu. Meski pelan dan tertatih tapi mantap terdengar.

Keduanya larut meresapi kekhusyuan yang harus mereka hadirkan di setiap shalat mereka. Seketika dari kejauhan, langit-langit di atas sana terlihat rumah sederhana itu bersinar. Penduduk langit menyaksikan, kedua manusia yang selalu teguh menjalani hidupnya. Hidup yang dihias dengan sabar dan shalat. Meyakini hidup hanya sebuah ladang untuk menanam kebaikan yang kelak mereka petik hasilnya ketika kehidupan akhirat harus dimulai.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” Qs. 2: 45



Cerpen | Rumah | 02/02/16
©yulinsar
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Sesekali Menangis

google.com Sesekali menangis tidak apa-apa kan? Tidak perlu menyembunyikan airmata yang mungkin sudah takdirnya harus jatuh. Seiring bertambah…