Nostalgia

Tak terasa waktu terus bergulir. Meninggalkan kisah-kisah yang berbekas di hati selama dua tahun ke belakang. Tak sadar sudah 2 tahun lulus dari masa putih abu-abu. Kuakui memang di masa itulah gejolak hijrah begitu kentara.

Semangat itu yang aku rindukan. Mencari jati diri yang membentukku dan menyelubungi nafasku hingga saat ini. Bukan tentang terjerumus atau di jerumuskan. Tapi akulah yang ingin terjun di dalamnya. Dilema dakwah sekolah.

Caci maki selalu ada. Bahkan masih kuingat wajah dan ucapan mereka yang sempat mencibir ‘kelakuan’ku ini. (Semoga Allah memberinya hidayah.) Bukan hal yang mudah menegakkan hal yg haq ditengah masyarakat yang menolak. Di cap sebagai ‘melenceng’ sepertinya sudah menjadi pil pahit yang harus aku dan teman-temanku telan. Bagaimanapun mencoba mencair disinipun sudah tak bisa. Stigma yang ditanam orang itu terlanjur menutup jalan kami untuk back to school.

Di fitnah dan di cap sok suci itulah yang membuat aku rindu. Karena disana aku belajar tentang kesabaran dan menyadari bahwa setiap air mata yang menetes adalah obat bagi kesedihan itu sendiri. Membuatku lebih dekat denganNya. Merasai ukhuwah yang lebih dalam dengan rekan seperjuangan.

Jalan ini memang terjal, siapa suruh berada di dalamnya. Maka cacian manusia yang tak mengerti itulah yang akan membayangimu.

Iya memang. Sampai saat ini, masih belum berani untuk kembali. Meskipun bergerilya kini menjadi pilihan.

Itu dua tahun lalu. Kini, aku berada di suatu nafas yang sama namun dengan suasana yang berbeda. Tak ada gejolak yang lebih kentara terhadap pribadi. Namun lebih kepada jamaah. Aku merasa nyaman. Tapi ada hal yang memang butuh semangat yang lebih lagi.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like