My Trip My Tadabbur – Jogjakarta Part 3

Syukurmu harus bertambah-tambah!
Disclaimer: Tulisan ini sepenuhnya adalah pengalaman pribadi penulis. Untuk yang ingin tahu lebih mendalam tentang beberapa tempat yang akan disebutkan di bawah, maka dipersilahkan untuk mencari referensi lain sebanyak-banyaknya yaaaa. 🙂

💞

Hai gaes, maaf banget baru bisa post lagi sekarang nih. Karena kemarin-kemarin sudah mulai disibukkan dengan semester baru di sekolah. Yah meskipun aku yakin, kalian gak peduli juga sih. Hahaha. Siapalah aku. Hanya remahan kacang yang tersisa di kardus martabak manis yang dibeli abis gajian. Dibuang gitu aja. Wkwkwkwk.

Baiklah, aku lanjut saja yah. Terhitung tanggal 21, trip aku dan kawan-kawan dimulai. Tujuan kami hari itu, yang bertepatan dengan hari Jumat adalah Candi Prambanan. Pada kesepakatan awal kami agendakan berangkat pagi-pagi sekitar pukul 9. Ternyata mungkin karena hawa mager menghantui, akhirnya kami baru selesai bersiap untuk berangkat pukul 10. Ini juga diputuskan berdasarkan kesepakatan lho, kesepakatan untuk ngaret. Hahaha.

Oya, kita di sana touring pakai motor sewaan. Satu motor ditarif 70rb perhari, dipinjami 2 helm dan satu jas hujan ponco dengan dua lubang kepala. Tuh detail banget kan gue mah. Namanya Rogo Transport kalau indak salah ya. Perlu kutulis di sini ndak kontaknya?

Okeh iklannya kita sekip dulu gaes. Jadi akhirnya karena ke-ngaret-an kita. Juga perjalanan yang hanya bermodalkan tekad baja buat jalan-jalan dan gugel maps. Aku sih yang sering kesasar, ketinggalan mulu. Kzl, padahal akutu udah ngimbangin mereka. Aku aja kalau bawa motor udah ngebut, kebayang lah mereka secepat apa. Ditambah lagi di Jogja tuh di jalan kampung aja ada lampu merah tjuy. Meskipun di depan-kanan-kiri gada motor yang jalan, semua pengendara patuh sekaleh *standing applause*. Singkat cerita, kita akhirnya sampai di Prambanan pas adzan Zuhur.

Sambil nunggu mau ke masjid yang penuh karena dipakai untuk shalat Jumat, ternyata perut sudah meronta-ronta. Mampirlah kita ke rumah makan di samping pintu masuk Prambanan. Tongseng sapi, apa ya nama rumah makannya? Lupa. Pokoknya di depannya itu ada patung kepala sapi gitu yang terpotong plus ada cat darahnya gitu. Haha. Enak rasa tongsengnya kok. Ya untuk harga ga bisa dibilang murah juga sih. Karena kan ini di kota ya. Standarlah, dibawah 20 ribu sudah plus nasi dan es teh manis.

 

Perut sudah terisi, siap untuk berangkat! Eh shalat dulu deng. Ketika kami masuk untuk beli tiket, ditawarkan sama bapak-bapak petugasnya, ada paket trip include ke candi Boko (konon kalau lihat sunset di sini bagus banget). Kita ambillah paket itu, 75ribu harganya. Begitu masuk, kami diminta untuk menunggu giliran naik elf untuk ke Boko. Ada beberapa rombongan selain kami di sana. Sambil menunggu, kita cekrek-cekrek upload dulu. Alhamdulillah.

yang jauh mendekat, yang dekat merapat~

Pertama kali masuk, karena di sana tempatnya termasuk dataran tinggi, hawa sejuk langsung menelusup masuk. Banyak tempat yang ikonik, kalau buat foto-foto bagus deh. Begitu menapak kaki di candi Boko, ah penyesalanku sih. Tidak menemukan papan tentang kisah dari candi ini. Kan lumayan buat nambah pengetahuan, kalau begini kan jadinya aku searching aja deh di gugel. Apa aku yang carinya kurang detil yak? Satu kata ketika aku di sana adalah, LUAS pake banget. Pengunjung hari itu lumayan sih, mungkin akan jauh lebih ramai begitu memasuki waktu matahari terbenam.

      yang depan lagi gandengan, aku lagi bawa gendongan (tas) hahaha


Sepi, itu sih yang aku rasakan ketika di sana. Akupun masih mencium bau ‘kemenyan’ atau ‘hio’ di beberapa tempat di sana. Maybe karena ini masih dipakai tempat ibadah atau apapun lah yaaa aku tak tahu juga.


Merasa sudah cukup puas (red: letih) berjalan-jalan mengelilingi Boko. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Prambanan naik elf dan berkeliling (lagi) di sana.

Ketika di Prambanan, kami berpisah. Berbeda tujuan muter-muternya. Aku berdua dengan Opi melanjutkan untuk berkeliling berdua. Hunting foto, dia sih yang hunting, aku follower aja.


Waktu sudah sore. Kami akhirnya berbeda tujuan berikutnya. Kim dengan Septi masih di Prambanan. Erma, Hevi, dan lainnya berniat untuk pulang. Aku, Opi, Fani, dan mbak Eny memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke satu masjid fenomenal. Siapa yang ustadz favoritnya ust Salim A. Fillah? Pasti tahu masjid ini. Beliau sering banget nyebut masjid ini di kajiannya. Jalan berliku, masuk-masuk gang kecil. Akhirnya nemu! Masjid Jogokariyan. Nggak bisa foto-foto banyak sih di sana, selain karena kita datengnya pas malam hari, jadi agak ramai sih. Sesampainya di sana kita shalat Maghrib dan ikut Isya berjamaah. Maasyaa Allah, rasanya tuh terhura. Aku sendiri gak nyangka bisa melakukan perjalanan sejauh ini dan seniat ini. Alhamdulillah Allah memudahkan segalanya. Meski disaat itu sedang galau luar biasa, Allah hibur aku dengan liburan yang menyenangkan dan menenangkan ini.

terharu bisa berada di sini~
sampai jumpa lagiiiiiii~
 
Kita sempat mampir ke apotek Jogokariyan di seberang Omah Dakwah, karena Opi mau beli obat radang dan aku mau jajan kebab. Wkwk. Akhirnya karena waktu sudah mulai malam, kita memutuskan untuk pulang. Yah, perjalanan pada malam hari itu jauh lebih sulit. Selain belum hafal jalanan, ditambah jalanan gelap dan kanan-kiri sawah. Sepanjang perjalanan gelap dan hanya bisa banyak berdoa dan dengerin cerita Opi di atas motor.

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal~

Lanjutan kisah ini bisa simak link di bawah ini:
1. My Trip My Tadabbur – Jogjakarta Part 4

Cerita sebelumnya:
1. My Trip My Tadabbur – Jogjakarta Part 1

2. My Trip My Tadabbur – Jogjakarta Part 2

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Kepada Langit

Ingin kusampaikan sebuah cerita pada langit tentang sesak yang akhir-akhir ini melingkupi perasaanku.Tentang keheninganku pada semua hal. Tentang…

Rehat

Kita butuh menepi sejenak dari segala urusan-urusan yang memusingkan. Tanpa berlari dari hal-hal itu. Selesaikan pekerjaanmu, lalu beralihlah…