My Trip My Tadabbur – Jogjakarta Part 1

Perjalanan menuju Jogjakarta
Hai, Assalamu’alaikum!
Apa kabarnya nih gaes, sudah akhir tahun, btw gimana resolusi? Sudah tercentang semua kah? Apa kayak aku yang salah satu resolusi terbesar tahun ini masih berselimut tanya yang besar. Hahaha. Apapun itu, semoga apa yang kamu rencanakan sejalan dengan ridhoNya yaa. Aamiin. Kalau ndak tercapai tahun ini ya tahun depan lah. Insyaa Allah, semoga dimudahkan. Yang penting niat sama ikhtiarnya dulu, soal hasil? Serahkan sama Allah. Dia tahu yang terbaik untuk hambaNya.

Mungkin diocehan aku kali ini lebih kepada cerita aja kali ya. Tentang perjalanan aku dan teman-teman ke Jogjakarta selama 5 hari, 5 malam termasuk keberangkatan dan kepulangan. 
Pada awalnya, sekitar awal Oktober kalau ga salah, itu aku ditawari sama salah satu temen di tempat ngajar. “Bu, akhir tahun kita trip yu, ke Jogja!”. Aku merasakan ada secercah sinar yang menyilaukan. Tsaelah. Pas banget, akhir tahun ini memang udah punya planning mau berangkat yang entahlah itu kemana tujuannya. Masih membekas impian kala 2 tahun lalu. Sebagai reward kalau kelar skripsi saat itu tahun 2016. Tetapi, impian tinggal impian bung. Aku lulus sidang bulan Mei 2017, sedangkan wisuda baru bulan Agustus 2017. Otomatis mundur lagi, di plan lagi akhir 2017. Qadarullah hectic banget. Boro-boro mikir liburan. Alhamdulillah Allah ijabah di akhir tahun 2018. Meskipun kondisi hectic juga sih. Banyak amanah yang harus dikorbankan. :’)
Tibalah pemesanan tiket, cus terpilihlah tanggal 19-24 Desember. Sudah transfer tiket PP, saat itu aku sama Opi dalam satu kereta yang sama. Tujuan stasiun Lempuyangan, dan berniat izin numpang di rumah Simbah-nya Erma berdelapan sekaligus.
Tunggu punya tunggu, kemudian kita sibuk dengan kegiatan olah nilai, rapotan, administrasi kelas, dan amanah lainnya. Jeng-jeng, di tengah penantian mau rihlah, segala persiapan udah seapik mungkin. Sampai sudah pesan motor buat transportasi selama di sana. Qadarullah dapet kabar kalau tanggal 17, 18, 19 Desember ada agenda mendadak yang harus aku hadiri. Agenda apa? Yah mungkin di halaman lain akan aku kisahkan. Karena ketidakhadiranku di tiga hari kemarin saat raker, membuat geger satu sekolah, sampai ada yang japri macem-macem lah. Hehe. Insyaa Allah akan kutulis cerita khusus tentang hari-hari itu yaa, tungguin aja.
Kembali ke topik. Baiklah, panik dong, secara tanggal 19 udah pesen tiket ke Jogja. Mau gak mau harus konfirmasi sama rekan seperjalanan, Opi. Bagai sudah memprediksi apa yang ingin kuungkapkan. Intinya dia support aku, kalau aku mau ubah jadwal, diundur jadi tanggal 20, dia siap membersamai. Coba itu, meleleh gak sih sama sikap dia yang kayak gitu. Sama temen aja segitu care-nya apalagi sama … . Oke skip ya. Hehe.
Akhirnya, kita berdua sepakat mundur jadwal. Teman-teman yang lain sudah berangkat hari Rabu, kami menyusul di hari Kamis. Duh itu buat kalian yang mau reschedule tiket alangkah baiknya sudah jauh-jauh hari. Alhamdulillah, aku dan Opi ke stasiun Ps. Senen di hari Ahad, kita sampai di sana sekitar pukul 09.30 lah ya. Entah kenapa, semuanya serasa Allah mudahkan. Kita berdua sampe takjub banget. Dateng ke antrian buat ubah jadwal, dapet nomor antrian 300-an, kemudian ibu-ibu ngasih kita nomor antrian 210 kalau ndak salah. Maasyaa Allah, terus ternyata butuh syarat fotokopi KTP, kita masuklah costumer servis, itu ambil nomor antrian, dapet nomor buntut lagi, eh si Opi matanya jeli banget dong. Di atas mesin nomor antri itu ada nomor antri yang orang taruh di sana, lupa nomor berapa. Eh tau-tau abis itu langsung dipanggil nomor antriannya yang kita dapatkan dari atas mesin tiket dong. Udah tuh kita ketawa-tawa aja. Yang lain pada ngeliatin, pas aku maju. Mungkin mereka pikir “Nih orang baru ngambil nomor, kok udah dipanggil aja”. Duh Allah maha baik deh.
Tahu gak gaes, nungguin nomor antrian di sana itu bisa kita gunakan untuk menyelamatkan dunia! Serius deh.
Selang waktu nunggu, kami mampir shalat zuhur di masjid, kemudian makan siang dulu, minum teh p*cuk, bolak-balik ke Indomar*t numpang ngadem. Eh gak ding, beli air mineral juga. Akhirnya nomor antrian dipanggil, bayar kekurangan tiket. Pas banget keberangkatan terakhir di tanggal 20 pukul 7.15 nah selanjutnya, mikir deh tuh kita mau berangkat dari rumah jam berapa. Hehehe.
Dia, yang diperjuangkan….
 
Setelah tiket sudah di tangan hasil dari penantian selama 3,5 jam. Kami berdua pulang ke rumah. Padahal cuman ngubek-ngubek stasiun aja. Tapi capeknyaaaa minta ampun. Satu pelajaran penting sih, Allah baik banget sama kita berdua. Semuanya serasa dimudahkan. Pertanda baik nih. Hehehe.
Insyaa Allah.
Wajah bahagia after berjuang antri lama genks, mau pamer tapi was-was tiketnya terbang. Haha.
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Kelapangan

Satu hal yang sulit dicari dengan hanya bertanya. Tidak nampak dalam sekali jumpa. Bukan sesuatu yang bisa dinilai…

Sebuah Benteng

google.com Dahulu kala benteng dibuat oleh sekelompok orang untuk berlindung dari serangan kelompok lain atau berguna sebagai tanda…

Masa Lalu

Jadi flashback. Dulu, langganan ke rumah sakit. Bolak-balik tiap minggu. Ngeliat rumah sakit udah kayak rumah sendiri. Main…