Mutiara di Hamparan Permadani Hijau

Mutiaraku, perhiasanku. Bukan, ini bukan hanya perhiasan biasa bagiku. Lebih dari itu. Mutiaraku ya anak-anak itu. Meski terkadang bandelnya mereka itu sanggup membuat hati mendidih, namun manisnya sikap mereka terkadang membuatku selalu rindu. 
Anak kecil. Penyenang hati, penyejuk mata. Mereka memang bukan adik kandungku, anakku juga bukan. Tapi, aku menyayangi mereka. Ini memang duniaku, berkecimpung di dunia anak. Di rumah pun anak-anak tetangga tak ketinggalan untuk aku rindui. 
Mutiara itu untuk melihat indahnya memang butuh proses. Tak langsung bersinar, harus diolah agar menjadi perhiasan mahal. 
Mereka memang memiliki impian yang berbeda-beda, nasib yang tak sama, dan cita-cita yang lain. Tapi aku bangga, sebab pernah menjadi orang yang mereka temui di awal waktu, jauh sebelum mereka menjadi apa-apa. Dimana dan apapun nanti yang kalian kerjakan, kalian tetap mutiaraku. 
Jadi rindu pada sosok yang disana. Yang nanti Allah titipkan pada kita. Penyejuk mata, penyenang hati. 
Calon anakku, mungkin Ummi bukan Ummi yang seperti engkau dambakan. Tapi Ummi ingin kau nanti besar melalui tanganku dan Abi mu tanpa terlalu memanjakanmu ataupun keras terhadapmu. Karena kini Ummi sedang belajar bagaimana seharusnya menjadi guru yang baik, madrasah yang baik. 
Ketahuilah Ummi mu ini bukanlah malaikat, Ummi pun manusia biasa yang perlu harus banyak belajar. Hingga tiba masanya nanti kau lahir ke dunia ini, rasanya Ummi masih harus banyak belajar. Belajar memahamimu, belajar menjadi sahabatmu, belajar menjadi madrasahmu.
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Cetar Membahana

Bismillah. Kalau dihitung-hitung udah lama juga ya gak mampir ke blog ini. Kasihan, dirimu sudah banyak debu ‘blog’.…

Rindu

Rekor! Udah setahun lebih gak pernah begadang lagi dan akhirnya begadang juga. Dahsyat, badan udah kayak melayang rasanya…