Memilih Menjadi Angin

Bisakah, seperti awal lagi? Saat kita mengeja nama satu sama lain, dalam keterhijaban hati masing-masing.

Kita tidak perlu bersusah payah saling menghindari. Toh, aku tidak pernah mengetahui apa yang tidak kuketahui, bukan? Dan aku merasa lebih baik kita tetap seperti ini. Tidak perlu sibuk menerka sesuatu yang nantinya malah merepotkanmu bersikap terhadapku.


Kadang aku memilih menjadi angin saja, yang tidak bisa kau lihat. Sebab aku merasakan bahwa memang kau terusik dengan kehadiranku. Benar aku bisa menjadi angin, kan? Kau bisa terus bertumbuh, dan aku tidak mengusikmu sama sekali.

Kadang juga aku memilih menjadi pohon di taman tempatmu berteduh dan bercengkrama dengan kawanmu yang lain. Sebab, aku bisa melihatmu damai dan bahagia tanpa harus sembunyi-sembunyi. Toh aku adalah pohon, kan? Yang kau pun tidak peduli kehadiranku. Terus menerus berada di tempatku seharusnya, tanpa perlu khawatir kau akan mengusirku.

Aku hanya menunggu-nunggu saja. Tidak berani berbuat banyak. Sebab, aku menyukai kondisi kita seperti ini. Saling berjauhan, tanpa perlu membunuh perasaan satu-persatu jika sedang rindu. Setuju?
@yulinsar
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Pertemuan (Quote)

Setidaknya kita pernah bertemu, meski pertemuan-pertemuan itu tidak pernah kita sadari satu sama lain. Sebab, tujuan masa depan…

Titik Terang

Doa yang sama, tiap kening bertemu hamparan sajadah.Harap yang sama, ketika sepuluh jemari menengadah meminta.Ia berayun, beradu dalam…

Itu..

16 Januari 2013 huh, benjolan itu tak kunjung mengecil, semakin paten saja bersarang di bawah hidungku… mengganggu sih…

Cetar Membahana

Bismillah. Kalau dihitung-hitung udah lama juga ya gak mampir ke blog ini. Kasihan, dirimu sudah banyak debu ‘blog’.…