Kupu-Kupu Cinta

google.com
“Kupu-kupu cinta, terbanglah tinggi menuju jalannya. Hinggaplah engkau dibunga yang indah. Terbang bersama hembus angin cinta”
Sigma – Kupu-Kupu Cinta
Sebelum aku mulai menuliskan lebih jauh tentang cinta. Alangkah baiknya jika kita mulakan dengan mengucap syukur sebanyak-banyaknya pada Allah atas nikmat iman islamnya dan nikmat sehat yang hingga detik ini masih di perkenankan menapaki bumiNya. Syukur juga kita panjatkan atas nikmat kepekaan hati ini. Hingga ia dapat mengecap satu rasa yang indah. Alhamdulillah. 
Tulisan ini ku mulai dengan hembusan nafas gelisah. Gelisah tentangmu. Tentang kalian yang pernah memiliki rasa yang mungkin belum layak untuk bermekaran. Jika ia benar cinta sebaiknya di segerakan atau di musnahkan. Karena bila cinta datang sebelum waktunya, kita harus bertindak tegas. Membiarkan rasa ini selalu terpelihara dengan ikatan, ataukah harus hangus karena ketidaktegasan? 
Aku tahu perasaanmu. Mungkin aku berlebihan. Tapi karena kita sama-sama mengerti, karena kita sama-sama wanita. Aku sangat tahu, tak enak rasanya bersembunyi di balik kewajaran. Susah rasanya hati mengakui bahwa ada rasa yang lain terlanjur berkembang. Alangkah liar nafsu keinginan untuk bersegera itu menyelubungimu. Tapi lagi-lagi kau membentur 2 kata. Aku wanita. 
Karena kau wanita maka aku jawab, selayaknya embun yang tercipta di pagi hari. Dan saat mentari perlahan naik dan melunturkan embun di dedaunan. Maka rasa itu akan luntur bila masanya tak pernah kau ikat. Tak pernah mencoba untuk mengurai. 
Belum lagi kawan di sekitarmu yang memang senang membahas hal ini. Yang terkadang kau menjadi objek buli mereka. Sabar. Aku pun tengah merasakannya. Berada di umur peralihan dari belasan menuju puluhan ini banyak sekali godaan yang menggoyahkan keinginan. Namun aku yakin, jika saatnya sudah tiba aku pun akan menikah. Tahun berapa? Dengan siapa? Biarlah ia kini tanpa nama, tahun pun aku hanya bisa mengiba padaNya dan kutuliskan sebagai doa yang tak pernah putus.

Untuk dirimu yang kini tengah jatuh cinta. Merupakan hal wajar jika kau merasakan hal itu. Cukup simpan itu, tak perlu ia terurai jelas. Biar ia menjadi misteri yang indah nanti.

Karena aku pun juga wanita. Tegas dan lupakan! Jaga izzahmu ukhti.
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Abai

Sebab dirimu diabaikan. Karena dirimu abai pada setiap orang. Ya, sudah seharusnya. Jika kita sakit tertusuk duri, satu2nya…

Mushaf Cinta

Tenggelam di sudut malam, aku terduduk lesu melihat map merah ada di atas meja belajarku. Ah, kenapa seperti…