Ku Hadapi Ledekan Dengan Senyuman ^_^

Hari yang indah bagi semua pelajar seluruh Indonesia. Hmm,bagaimana tidak hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah. TK, SD, SMP, dan SMA/SMK semua berbondong-bondong menuju sekolah-nya masing-masing atau ke sekolah baru-nya. Maklumlah, tahun ajaran baru saja di mulai. Selama beberapa minggu menghabiskan waktu liburan dengan jalan-jalan bersama keluarga ke tempat rekreasi, atau sekedar jalan-jalan di mall, atau juga bagi yang tidak punya pegangan saat liburan adalah TIDUR di rumah. (haha.. penulis banget tuh!)
Suasana pagi yang ’merepotkan’, semua kendaraan umum penuh sesak dengan anak sekolah. Tak terkecuali dengan Zulfa, pagi ini ia harus berangkat ke sekolah pagi-pagi. Dia memang bukan anak yang terlalu ’penting’ di sekolah-nya. Namun, kebiasaan-nya adalah berangkat sekolah lebih awal. Disiplin. Itulah yang ayah-nya tanamkan sedari Zulfa kecil. ”masyaallah, pagi ini aku bisa telat. Huft.” batin-nya. Entah mengapa yang biasanya pagi hari yang suasana-nya sejuk, angin semriwing, agak-nya pagi ini sangat panas dan pengap. Bus yang di tumpangi Zulfa penuh sesak dengan anak sekolah dan para pekerja.
***
Zulfa adalah seorang pelajar SMA yang baru naik kelas 2. di sekolah-nya ia sebagai salah satu anggota OSIS, jadinya pagi ini ia ’sedikit’ menjadi sibuk mengurus MOS di sekolah-nya.
***
”akh Fuad, saya membimbing gugus 7 dengan antum ya?” tanya-nya pada Fuad, salah seorang anggota OSIS. ”ehm, iya ukh, anti sich kemarin gak ikut rapat” jawab Fuad. ”hehe, afwan saya ada keperluan keluarga akh.” jelas Zulfa. Fuad segera melangkah ke lapangan dan menyiapkan barisan anak-anak baru, Zulfa mengikuti.
***
Suasana MOS menyenangkan. Tiba di hari terakhir mereka, para murid baru menamatkan ’penderitaan’-nya. Penderitaan?? Ahh tidak, ini semua hanya untuk melatih mental mereka supaya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah mereka yang baru.
Zulfa teringat akan masa-masa MOS-nya setahun yang lalu. ”hemm,masa-masa yang sulit untuk di lupakan” ucap-nya sembari tersenyum. Gadis berlesung pipi ini awal-nya merasa minder masuk ke sekolah umum ini. Semula ia ingin sekali masuk pesantren. Namun, biaya di pesantren di kota ini lumayan mahal. Sementara ia dan keluarga-nya bukan berasal dari keluarga ’wah’.

Tinggal ber-empat di rumah yang tidak terlalu besar bersama adik perempuan serta kedua orangtua-nya. Ia sebenarnya beruntung bisa masuk sekolah negeri, di mana biaya bisa di perhitungkan lah. Apalagi Zulfa termasuk salah seorang siswi yang berprestasi. Zulfa minder karena ia berpakaian sedikit beda dengan yang siswi lain. Yang membedakan ialah jilbab-nya yang menjuntai hingga perut, menutupi dada. Bajunya yang kebesaran, kaki yang dengan di balut kaos kaki. Mulanya ia ingin sekali memendekkah jilbab-nya itu. Astaghfirullah!!! Tapi tidak ia lakukan. Pikir-nya ”buat apa aku harus menuruti selera mereka. Biarlah Allah yang menyukai aku seperti ini, buat apa aku menuruti mereka sedangkan mereka tak tahu bahwa ada yang mengawasi mereka?

Aku hanya ingin mematuhi aturan Allah.. bukankah Allah sudah memerintahkan hal ini dalam firman-Nya? ”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab:59) apa aku salah? Kenapa mereka seolah menghakimi aku dengan penampilanku seperti ini??”

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-ankabut:2-3)
”mungkin ini hanya secuil ujian untukku.. sabarr… ”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:153)”
***
Kini ia hanya bisa mengingat kata-kata dalam hatinya yang sudah ia tanamkan sejak dulu. Sabar. ”Ayah dan Ibu tidak melarangku kok, mengapa mereka sibuk denganku? Jika Allah senang dengan perubahanku, mengapa mereka justru menganggapku aneh? Biarlah, Allah Maha Tahu segala hati hamba-Nya. Mereka hanya belum mapu sepertiku ini. Ya Allah, ya Rabb hamba.. bukakanlah pintu hati mereka… aamiin”. Ya. Hanya itu kalimat yang ia ulang-ulang dalam hati-nya jika dalam keadaan terpojok.
***
Zulfa menganggap dirinya itu biasa-biasa saja. Tubuh-nya yang selalu terbalut baju nggombrong itu tak terlalu gemuk. Bahkan bisa di bilang proporsional. Wajah-nya, ia akui memang tidak terlalu cantik. Ahh, tidak! Terbukti banyak yang mengagumi diri Zulfa. Hanya lesung pipi yang membuat dirinya terlihat ’manis’. Gadis shaliha itu ternyata menjadi petarungan berbagai hati yang mengaguminya. (ssstt.. tapi jangan bilang-bilang Zulfa ya! Cukup penulis, pembaca, dan Allah yang tau.. ntar Zulfa GR dah…) ”penulis.. aku liat taukkkk!!!!” gerutu Zulfa.
***kabuuuurrrrr***
Lanjut ahh.. :p
***
Di kelompok pengajian itu ada beberapa anak dari sekolah Zulfa. Gadis berjilbab ini bersama kedua teman-nya Nur dan Nia mengikuti pengajian itu. Di pimpin seorang ustadz, ustadz Ilyas nama-nya, ustadz yang masih ’gaul’ itu memang di rasa pas dengan remaza zaman zekarang. (zenapa zadi z zemua zneyh! Bletaks! Lanzutin aza dah mbak penulis…) ustadz yang mengerti, seru, terhitung bisa membawa diri. Saat serius, beliau serius, bahkan kami murid-nya bisa di buat nangis-nangis (nahlohhhh!), kadar tersenyum-senyum mendengar humor-humor sufi-nya tentang Abu Nawas dan para sahabat Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam. ”Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu”. (HR. Ath-Thabrani)
Tidak hanya mereka bertiga yang dari SMA Cerita Hati (atau biasa di singkat SMA TaTi, hehe) namun ada beberapa remaja laki-laki sekitar 5 orang. Fuad, Hasan, Nabil, Rahmad, dan Rosyid. Semula Zulfa tidak tahu dengan pengajian remaja ini, dia di beritahu oleh Fuad, lalu ia mengajak Nur dan Nia.
Kini Zulfa semakin menikmati hidup-nya, ia tak minder lagi dengan jilbab yang di kenakan-nya itu. Sudah biasa ia dengan ejekan-ejekan yang sangat sering di luncurkan teman-temannya. Mulai dari ”Zulfa kedinginan ya? Sekolah kok bawa-bawa selimut? Haha” terus ”Zulfa mau jadi wonder women ya? Jubahnya di pake mulu”. ”iya, aku mau terbang, mencari ilmu Allah.” jawabnya dalam hati setiap mendengar lontaran ledekan dari teman-temannya itu. Dia hanya menanggapi dengan senyum lesung pipi-nya itu. Hemm. Nur dan Nia juga sedang belajar mengenakan jilbab syar’i ini. Mudah-mudahan Allah memantapkan hati mereka. Aamiin.
***
NB: jika terjadi kesamaan nama atau latar cerita itu hanya kesengajaan belaka. Hehehe! ^_~ bercanda, bercanda.. cerita ini di hanya untuk berbagi. JUST FOR SHARE!! ^_^
*senyyuuuuuummm*
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Hujan Kemarin

Rintik yang turun sore ini, mengingatkanku padamu. Saat hujan pertama turun, di hari pertama jumpa. Tas punggung abu-abu,…