Ketika TakdirNya Berbicara 2


EPISODE 2

“Abi  tak menunggumu untuk  siap, karena kesiapan itu kamu sendiri yang membuat batasnya”
Ternyata Abi tak menuntutku harus menerima sekarang, tapi beliau berkata, jika terlalu lama memutuskan, maka Abi yang akan membuatmu memutuskannya. Menyeramkan? Ya, tapi setidaknya membuatku bernafas lega, meskipun sebentar.
Semester berganti, kisahpun berlanjut. Semester genap ini membuatku sedikit senang, karena cuaca sudah tak seterik semester kemarin. Dan, dosen-dosen pun memperkenalkan dirinya dengan baik dan dalam waktu yang singkat tentunya. Namun, semester ini membuatku harus berfikir dengan keras, karena makin sulit mata kuliah yang ada. 
Ups, tertinggal satu dosen yang belum masuk kelas, kami sepakat jika jam 2 belum juga datang maka kami pulang. Tinggal satu menit lagi. Heol, kupersiapkan tasku dan melangkah keluar kelas mendahului yang lain. Namun, saat ujung kakiku masih tertinggal di dalam kelas. Langkahku tertahan oleh sosok didepanku. Ia tersenyum dan bertanya.
“PGSD 6A?” tanyanya
Aku mengangguk dan mundur kembali ke tempat duduk semula. Teman-teman lainpun yang akan beranjak terduduk kembali. Terpana? Kaget? Malu lebih tepatnya. Itu aku, ketahuan deh kalau mau keluar kelas.
“Maaf ya saya telat. Tadi saya muter-muter nyari kelas ini ga ketemu-temu, pusing soalnya” dosen itu mengonfirmasi keterlambatannya
Lucu? Hahah, nggak!
“Hahaha, yaiyalah pak!” ucap anak-anak sekelas.
Seketika suasana kelas menjadi ramai. Dosen ganteng katanya, masih muda lagi, aku taksir usianya masih 26-27 tahun. Batinku masih malu mengakui, tapi emang benar sih. Eh?
“Siapa disini KM nya?” tanyanya
“Dodit paaak!” jawab teman-teman
“Eh, iya saya pak tapi Anis yang penanggung jawab mata kuliah ini” aku Dodit
Ups, aku? Seketika aku langsung mengangkat tangan.
“Iya saya Pak!” tegasku
“Oh kamu, siapa tadi namanya, Anisa Aulia ya? Saya minta nomor handphonenya, boleh?” tanya dosen itu
“CIEEEEEEEEEEE….”
Sekelas menjadi riuh karenanya, aku hanya berusaha menahan malu. Bukan karena aku suka, tapi aku tak suka diperlakukan seperti itu. Dosen itu benar-benar!!!
“Nis, Pak Azzam masuk ga?”
“Pak Azzam masuk kan Nis?”
“Pak Azzam sms elu gak?”
Apa-apaan sih pada, dosen itu emang paling rajin dari segala hal. Paling rajin SMS walau sekedar ngabarin kalau dia masuk ngajar hari ini, ya telatlah, nyuruh ngingetin temen sekelas lah. Semester ini beneran jadi PJ, tidak seperti semester yang lalu-lalu, yang dosennya memberi kabar ketidakhadiran saat sudah satu jam pelajaran berlalu. Ya, setidaknya membuatku melupakan hal yang akhir semester lalu sempat menggoyahkan hatiku. Tapi mengapa kata-kata Abi tiba-tiba terngiang di telingaku?
“Abi  tak menunggumu untuk  siap, karena kesiapan itu kamu sendiri yang membuat batasnya. Tapi, jika terlalu lama untuk memutuskan maka Abi yang akan membuatmu memutuskannya”
Aku hampir lupa, bagaimana kelanjutan perjodohanku ya? Ya, kini aku mulai sadar dan aku mulai melibatkan Allah dalam setiap proses kehidupanku yang karena masalah semester lalu aku hampir lupa. Astaghfirullah, ampuni aku ya Rabb. Istikhorohku dimulai, dengan segala pertentangan hati. Konsultasiku kugencarkan dengan mereka yang sudah berpengalaman dengan menikah muda.
“Anis, tolong antar tugas ini ke ruangan saya” perintah pak Azzam
“Iya pak” jawab aku menurutinya
Jujur saja, dosen ini memang humble, handsome, tapi udah jadi husband belum ya? Aku mulai ngawur, melamun sambil membawa tugas yang menumpuk di tanganku memang bukan hal yang baik. Lantai yang baru dibersihkan, dan aku yang tidak focus berjalan membuat keseimbanganku goyah, aku tergelincir di tangga, seketika tugas teman-teman ditanganku berhamburan. Diriku sudah tergeletak di bawah tangga, mengaduh kesakitan. Pak Azzam yang baru menyusul dibelakangku pun segera berlari dan berusaha menolongku membereskan tugas-tugas yang berhamburan di lantai.
“Kamu tidak apa-apa Nis?” tanyanya
“Hmm, gak papa sih Pak, tapi tangan saya sakit banget. Sepertinya terkilir deh. Maaf ya Pak, malah jadi ngerepotin bukan membantu” jawabku sambil terus memegang tanganku yang amat sakit.
“Saya yang seharusnya minta maaf, karena harus membebankanmu. Sebentar tunggu disini ya saya panggilkan yang lain dulu, kamu tunggu disini jangan kemana-mana. Oke?”
Aku hanya mengangguk dan terus memegangi tanganku. Bodoh! Kenapa sampai bisa terjatuh seperti ini? Apa yang kau pikirkan Anis!? Pak Azzam segera berlari menemuiku bersama Dodit, Dodit mengumpulkan tugas dan Pak Azzam mengantarku ke rumah sakit kampus. Sudah kutolak dan aku bilang padanya bahwa aku bisa sendiri, tapi ia bersikeras mengantarku ke rumah sakit. Dalam jarak yang cukup jauh, ia berada disampingku.
Entah perasaan apa yang tiba-tiba berdesir di dalam hatiku. Tiba-tiba aku merasa malu dan ingin tersenyum terus. Apa ini? Apa ini yang mengembang dalam hatiku? Apakah? Ah, sudahlah. jangan berharap lebih.
Aku ingin menghentikan pikiran ini. Tapi mengapa terus mengalir?
“Ini tak apa, beberapa hari juga akan sembuh, obatnya jangan lupa diminum nanti ya. Tebus obatnya di bawah ya. Dijaga dong Mas istrinya, hehe” ucap dokter itu
What the? Seketika melayang hatiku dibilang istrinya. Kenapa dengan hatiku? Beberapa jam yang lalu ini masih biasa saja.
“Iya dok, nanti saya jaga lebih baik lagi, hehe, permisi dok” jawab Pak Azzam
Kami menunggu antrian dibawa untuk menunggu obat. Pak Azzam duduk disebelahku, jantungku mulai berdegup kencang tak karuan. Ingin pindah kursi tapi tak ada yang kosong, jika berdiri akan terlihat sekali kalau aku menghindarinya.
“Dokternya lucu yah, ada-ada aja ngira kita ini suami-istri. Saya jadi ngga enak sama kamu. Maaf ya, karena kelalaian saya kamu jadi begini, dan dokter ta…” ucapnya memecah keheningan diantara kami berdua
“Iya Pak, nggak apa-apa kok” jawabku sembari tersenyum entah pada siapa
Kembali hening, hanya ada suara detak jantungku dan entah detak jantung siapa yang begitu keras terasa.
(Bersambung…)
0 Shares:
4 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Sesekali Menangis

google.com Sesekali menangis tidak apa-apa kan? Tidak perlu menyembunyikan airmata yang mungkin sudah takdirnya harus jatuh. Seiring bertambah…