Kenangan……kah?

Masih terseok-seok dalam pembenahan, tiba-tiba aku teringat sudah lama otakku tak diberi suguhan bacaan-bacaan ringan. Akhir tahun yang berat, akademik dan organisasi berdesak-desakan harus dituntaskan. Stress, sebelum parah, maka dengan sigap aku mengambil handphone yang tepat disampingku, browsing cerpen-cerpen dengan rasa baru. Tak lama kemudian aku terpekur sejenak mengingat beberapa fase kehidupan yang sangat membekas ditahun 2014 ini. Bertemu orang-orang hebat kemudian berpisah pula dalam waktu yang singkat. Ah, takdir, lagi-lagi tak bisa ku halangi bagaimana terjadinya.

Dik, tentu satu tahun bukanlah hal yang lama. Ia begitu singkat, hingga kadang aku masih melewatkan beberapa hal yang seharusnya mungkin kulakukan. Satu-persatu fase terindah itu akan segera berakhir. Menjadi kenangan kah? Atau bagaimana?

Januari, mengawali bahtera organisasi bersama saudara-saudari dalam barisan dakwah kampus membuatku merasa dihargai, bukan beban. Tawa-canda, kehangatan, sempat pula air mata mengiringi perjalanan kami. Maklum, perkenalan kami belum begitu mendalam, pula diri ini masih perlu diperbaiki dalam bersikap. Saudara kita cerminan diri bukan?

Februari, saat mereka satu-persatu meninggalkan status lajangnya dengan cerita begitu indah sampai mengharukan. Maka nikmat Rabb kamu manakah yang kamu dustakan?

Maret, memasuki fase tingkat dua akhir yang setiap harinya ditagih oleh projek, projek, dan projek mengajar.

April, dimana aku berawal menjadi zombie cantik. Kuliah pagi hari, mengajar malam hari, and free. Sudah dipastikan bentuk dan rupaku seperti apa dibulan ini dan beberapa bulan setelahnya. He he. Pada fase ini yang mungkin sampai saat ini aku bertanya-tanya, kapan akan bertemu malaikat-malaikat kecil itu lagi? Mungkin tak pernah lagi atau? Yasudahlah, yang jelas aku merindukannya.

Mei, seperti mahasiswa lain yang sedang sibuk-sibuknya dengan tugas kuliah.

Juni, kepala dua! Yeay! Dimana tanganku seharusnya selalu dekat dengan telinga. Siap-siap untuk menutupnya saat ada pertanyaan “….. …..?”

Juli, dimana aku bertemu bulan mulia itu, dan meresapi makna kehadirannya.

Agustus, ini liburan.

September, memasuki semester setengah baya. Tingkat tiga! Tugas yang cetar membahana, UTS yang sebulan lebih, angkat bendera putih.

Oktober, masih sama seperti sebelumnya.

November, melepaskan semuanya pada organisasi.

Desember? Aku masih menerka-nerka bagaimana kesudahan bulan ini. Izinkan aku menuntaskan kerinduanku.


Ciputat, 10/12/2014
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Waktu

Semua pasti sepakat waktu adalah salah satu ciptaan Allah yang berharga. Bahkan ada yang bilang, “Time is money!”,…

kontak

“Ajari aku menggunakan pena, akan ku tulis gemericik air, udara dingin, kabut senja sampai daun gugur”(Yus R. Ismail) …