Kagum Karena Allah


Yakinlah kekaguman itu sifatnya temporer. Sehari, dua hari mungkin menguat. Hingga kadang logika selalu tertutupi khayalan-khayalan palsu. Maka tunggu saja ketika ia berubah minggu. Disaat kekagumanmu perlahan memudar. Seiring derap langkahnya semakin menjauh.

Satu persatu aibnya mungkin akan terbongkar. Pada saat itu mungkin kau akan kecewa. Mengapa tak dari dulu saja kau mengetahuinya. Senyum kecil pertanda syukur. Sekarang kau sadar, bahwa menaruh harap pada seseorang yang berlebihan itu tak boleh. Apalagi tanpa menggantungkannya pada Allah.

Kian hari kekaguman itu menghilang. Jejaknya tertutupi dengan kekagumanmu pada makhluk yang lain. Ya begitulah. Hati yang mudah berubah. Maka ia belum bisa menundukkan hati.

Pandangan bisa ditundukkan. Hati? Siapa yang tahu. Sah-sah saja mungkin kau menaruh harap padanya. Tapi ingatlah, harapan tanpa komitmen itu hanya seperti bedak tabur. Hilang terbawa angin. Hanya tersisa wanginya.

Karena kau begitu berharga.
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like

Rumah

Kau tahu rumah? Ya, rumah yang memiliki atap, jendela dan pintu. Tempatmu bernaung dan berlindung dari segala ekspresi…