Jilbab Putih Aisyah (Bag. 1)

Pertama kali menjajaki dunia kepenulisan, ini cerpen pertama saya. Maaf kalau masih ada yang kurang disana-sini, karena tak ada mangkok yang tak legok. Hehehe. Selamat menikmati. ^_^
♥ Jilbab Putih Aisyah.. ♥

Siang di minggu September,
“ Mau kemana nak?? Kenapa kamu belum pakai….” Seru ummi Dhijah. “ Duh mi,udah telat nih,aku ga ada waktu buat pake itu.” Teriak Aisyah. Sambil menutup pintu ia mengucapkan salam “ Assalamualaikum

Ummi…”. “ Waalaikumussalam,,hmm anak itu…” bisik Ummi.

>>>>>>>>>>

Aisyah.. seorang pelajar SMP anak dari Ummi Khadijah. Adalah anak yang sangat cerdas,pandai bergaul dengan siapa saja,tidak manja,dan selalu tersenyum. Aisyah juga anak yang baik,sholeha,cantik. Namun, Abi-nya telah berpulang setahun yang lalu. Kepergian Abi-nya sangat memukul hati Ummi Dhijah,sebab Abi Ridwan sangat ingin melihat puteri-nya (Aisyah) mengenakan jilbab. Sejak saat itu,Ummi berusaha agar puteri tersayang-nya mengenakan busana muslimah itu.

>>>>>>>>>>

Hari ini adalah hari pertama Aisyah masuk sekolah. Di sekolah barunya itu,ia masih terlihat canggung karena ini adalah sekolah SMA-nya. Dan ini juga adalah hari pertama MOS. Setelah sarapan ia baru menyiapkan perlengkapan MOSnya,mendadak memang. Bagaimana tidak ia selalu tidur larut malam,menonton televisi tentunya.

“Ummiiii,dimana ya topi koran ku? Aku lupa nih di taruh dimana.” Teriak Aisyah. “Ummi ndak tau nak,coba kamu cari dulu di tempat lain mungkin barangkali ada di sana?” jawab Ummi dengan tenang.

Sedang sibuk-sibuknya mencari, Aisyah melihat benda yang tak asing baginya. Jilbab. Jilbab cantik berwarna putih yang tegeletak di atas almari Umminya itu. “ Alangkah cantiknya jilbab ini? Andaikan ini adalah milikku.” Aisyah mencoba mengenakannya. Sedang asyik mengenakan jilbab dan memuji dirinya sendiri depan cermin tiba-tiba Ummi masuk ke kamar.. “Gimana Is sudah ketemu to……” Ummi tertegun melihat puterinya “ Cantik sekali putri Ummi,seperti istri Rasulullah. Siti Aisyah.” Ucap Ummi. Segera saja Aisyah melepaskan jilbab nan cantik tu dari atas kepalanya. “ Hehe Ummi,ndak bilang-bilang masuknya.” Jawab Aisyah sambil tersenyum. “ Lho masa Ummi harus bilang-bilang kalo mau masuk kamar Ummi sendiri? Knapa nda di kenakan saja Is? ” kilah Ummi. “ Ah, Ummi. Ais merasa belum siap mi.” “ Ya sudah ya mi, Ais pamit dulu,tadi udah ketemu topinya. Assalamualaikum mi!”. Aisyah pergi berangkat sekolah,seperti biasa jika dia di Tanya tentang kapan mau mengenakan jilbab ia selalu menghindar dari Umminya yang sangat perhatian itu.

>>>>>>>>>>

Setelah menempuh perjalanan ke sekolah yang tidak terlalu jauh,akhirnya Aisyah tiba di sekolah barunya. SMA HIJAU. SMA yang terkenal bagus karena siswa-siswinya yang berprestasi. Aisyah juga siswi yang cerdas. Dia masuk sekolah ini karena ada beasiswa dari SMP terdahulunya.
Usai upacara pembukaan Ais langsung masuk kelas yang baru saja di umumkan. Dia mendapatkan banyak teman baru. Ada Annisa,Syifa,dan Novita, mereka teman dekat Aisyah selama MOS berlangsung.

>>>>>>>>>>

Tiba di saat hari demo ekstrakurikuler di sekolah. Ekskul pertama yang demo adalah teater. “ Seru juga nih kayaknya ikut teater nanti,gue pengen ikut ah..” ucap Novita kepada yang lain. Setelah Teater ada lagi PMR. “ah gue pengen ikut PMR aja,jiwa social gue kan tinggi,sekalian ngelanjutin dari SMP.” Kata Annisa pula. “ Ih, aku bingung.. hmm aku ikut Nisa aja deh..” ikut Syifa. “ Akh lu Sif, ga punya pendirian banget. Hahaha!” ledek Novita. Syifa hanya bisa cemberut. Tinggal Aisyah yang belum menyampaikan niatnya,kemana ia akan berorganisasi. Ia sama sekali tidak tertarik dengan ekskul-ekskul yang barusan di tampilkan. “ Ah aku males banget ikut ekskul.” Ucap Ais. “ kok gitu Is? Kan kita wajib ekskul.” Nisa mengingatkan. “ Menurut aku ga ada yang berkualitas banget ekskulnya.” Jawab Aisyah tenang. Tibalah saat demo ekskul rohis,entah mengapa ia merasa lain ketika yang tampil adalah Rohis. Para ikhwan yang tampil menjelaskan tentang apa saja yang dilakukan di organisasi Rohis ini. Tanpa ia sadari teman-temannya sedang memperhatikan ia yang sangat serius mendengarkan penjelasan para ikhwan tersebut. “ Wah,kamu naksir salah satu cowo anak Rohis itu ya?? Ayo ngaku..” celetuk Syifa. Mendengar pertanyaan itu wajah Aisyah itu memerah dan segera menjawab “ Ih kamu Sif,ada-ada aja deh. Orang aku Cuma lagi konsen aja nih,emang ga boleh ya??” “ Boleh sih,tapi ga segitunya juga kali sampe melotot gitu,uda kaya ngeliat apaan.. haha!” ledek Novita. “ Ciyeeeeeee! Prikitiew!” ucap Syifa, Novita, dan Nisa. Kompak!.

Ikhwan dari Rohis ini sangat menjaga pandangannya. Tidak sedetikpun Aisyah melihat ikhwan itu memandangi anak-anak kelas satu perempuan yang sedang mereka hadapi. Subhanallah. Terbersit keinginan Aisyah untuk ikut ekskul rohis. Ia juga melihat para akhwat Rohisnya yang memakai jilbab,tidak sekedar mengenakannya. Namun mereka nampak sekali menjaga jilbabnya itu. Sama seperti yang di pakai dalam keseharian bunda tercintanya itu. “ Akh Ummi,maaf aku belum bisa mengenakannya,aku belum siap mi..” gumam Aisyah.

(Bersambung…)

0 Shares:
2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Djuna

Namanya Djuna, lelaki berkemeja biru yang kutemui siang tadi. Ia karyawan baru di sini. Mejanya berhadapan denganku. Kukira…

Sekar

Namanya Sekar, perempuan manis yang duduk dua meja dari tempatku bekerja setiap hari. Dua bulan lalu, aku bekerja…

Mushaf Cinta

Tenggelam di sudut malam, aku terduduk lesu melihat map merah ada di atas meja belajarku. Ah, kenapa seperti…