Jadi, Ini Hari Apa?

Bus melaju dari kejauhan tiba dan berhenti tepat dimana aku berdiri. Berangkat dari Depok menuju Ciputat memerlukan waktu yang tak terlalu lama. Mungkin hanya dua jam. Tapi yang kurasakan pagi ini, jalan begitu lengang. Hingga tak perlu sampai dua jam aku sudah mendaratkan kaki di tanah Ciputat. Sepanjang perjalanan aku berfikir, seolah-olah merasa ada yang tertinggal. Aha! Ini hari Kartini bukan? Pantas saja suasana agak sepi, anak sekolah mungkin sedang sibuk mempersiapkan dandanan mereka menyambut hari Kartini.
 
Sebenarnya aku sudah menulis ini sebelum perkuliahan tadi pagi, namun terhapus karena terlalu lama membuka fesbuk ini dalam keadaan internet mati. Alhasil, aku harus mengulangnya dari awal lagi. Fyuh. Ini hanya catatan ringan saja, sebagai bentuk ke-Kartini-anku. Hehe.

Ibu kita Kartini..
Putri sejati..
Putri Indonesia..
Harum namanya..

Sering sekali kita memainkan lagu ini. Entah sekedar iseng atau hanya tugas dari sekolah untuk memainkan berbagai alat musik, terutama pianika dan suling.

Kartini, wanita pendobrak kebiasaan masyarakat pada zamannya yang hanya mengurung wanita di rumah. Tak boleh sekolah terlalu tinggi. Lulus sekolah dasar, lantas sudah dijodohkan. Proses penjagaan katanya. Kartini dahulu beruntung masih sempat sekolah, Kartini kita sekarang? Jangankan banyak yang tidak sekolah, yang sekolah pun bahkan duduk di bangku Taman Kanak-Kanak sudah diracuni masa depannya (red: kasus pelecehan seksual). Oh Kartini masa kini.

Baiklah kita lihat positifnya. Mungkin salah satunya berkat Kartini jugalah saya yang seorang wanita dapat bersekolah tinggi. Wanita karir sudah berada dimana-mana. Berkat Kartini pula wanita dihargai, di zaman modern ini. Namun, tak tahukah kita? Jauh sebelum Kartini lahir, jauh sebelum Indonesia ini ada, sudah ada wanita-wanita tangguh sejak zaman dahulu. Bagaimana tentang Bunda Khadijah yang menyerahkan seluruh hartanya untuk dakwah Nabi, Sumayyah? Syahidah pertama, lalu tentang Bunda Aisyah yang cerdas menghafal ribuan hadist, juga tentang Asma yang mengorbankan semua anaknya dalam jihad. Wanita sejak dahulu sudah mulia, Islam yang memuliakannya.

Jadi? Aku sulit untuk menemukan benang merah semuanya pada catatan kecil ini. Hehe. Maklumlah PAPB (Penulis Amatiran Pake Banget).

Teringat Ibu yang baru tadi pagi kuciumi tangannya, jika disandingkan dengan Kartini, tentulah ibuku melebihi sosok Kartini itu. Ia begitu mulia. Begitu harum namanya, di sudut hati ini.

Ini bukan hari Kartini, tapi hari wanita Indonesia. (Tentunya juga hari dimana anak sekolah dasar memakai baju adat)

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Iri

Kok jadi iri sih sama dia? Mulanya memang tak pernah selintaspun akan punya perasaan ‘aneh’ ini sama dia…

Amanah

Desember segera muncul ke permukaan, sedang Nopember masih meragukan untuk bersantai-santai ria. Nopember mengisahkan antara pembagian pikiran dan…

Cermin Dua Sisi

google.com Judulnya hari ini depan laptop menghabiskan kuota yang tersisa, download film-film inspiratif. Keyword yang kali ini ingin…