Iri

Kok jadi iri sih sama dia? Mulanya memang tak pernah selintaspun akan punya perasaan ‘aneh’ ini sama dia yang entah tak tahu siapa. Hanya sebatas rekan di meja kecil. 
Hingga tak kusadari, perlahan aku jatuh hati pada tulisan-tulisannya. Ah, rasanya itu yang aku dambakan. Menjadi penulis seperti itu yang aku inginkan. Tapi kenapa dia sih? Kan susah kalau mau tanya-tanya tentang tulisan. Terkendala waktu, jarak, dan hati. 
Kuakui memang pikirannya mempunyai seni tersendiri untuk dituliskan. Rasanya sama sekali beda dengan kebanyakan penulis favoritku seperti Kang Abik, Bunda Asma, Ustadz Salim, Bang Tere, ah beda banget. 
Tentunya juga beda dengan seleraku, tapi mampu membuatku mau untuk membaca, meskipun topik yang diangkat terkadang membuatku ‘no’ membacanya. 
Wajar, jika dia mempunyai peluang lebih banyak. 
Wajar, jika targetnya melebihi paper dream-ku. 
Wajar, jika sekiranya dia melangkah lebih jauh. 
Tapi, akan sangat wajar jika aku pun mempunyai peluang sepertinya. Akan kuhisap perlahan dan ku tiru sedikit demi sedikit semangatmu. Ya, siapa tahu nasibku sama denganmu.
Depok, 16 Mei 2014
@yulinsar
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Berisik

Pagi ini jalanan lebih berisik dari biasanya. Apa itu berasal dari pikiranku sendiri yang riuh saja? Ah entahlah,…

Biasa..

Ku jalani hari sebagai orang biasa, Wanita biasa.. Remaja biasa.. Biasa menjalani hidup sebagaimana sewajarnya.. Biasa menghadapi masalah…