Hujan Kemarin

Rintik yang turun sore ini, mengingatkanku padamu. Saat hujan pertama turun, di hari pertama jumpa. Tas punggung abu-abu, kemeja coklat muda, dan jam tangan di sebelah kiri lenganmu. Apa yang kamu kenakan pada hari itu, keren. Aku tertawa, dalam hati tentunya. Kita sama. Eh, maksudku apa yang kita kenakan, serupa!

Kita sama-sama menunggu di bawah kanopi tempat parkir. Menanti hujan sedikit reda, untuk melanjutkan perjalanan. Sesekali aku melirik ke arah motormu, diam-diam kuhafalkan warna striping nya, jenis spion, dan plat nomormu. Kutandai kau! Hahaha.

Perlahan hujan semakin mereda. Semakin rintiknya redup, semakin sendu. Seperti aku. Hujan sudah usai, tandanya menungguku di sini harus berakhir. Rintik hujan sore itu meninggalkan genangan, di memori otakku.

Kamu memakai jaket dan helm. Menyalakan motor dan bersiap untuk beranjak pergi. Meski hujan masih menyisakan gerimis yang lembut. Kamu berjalan melewatiku, dengan senyum yang mengembang. “Aku, duluan ya?” ucapmu.

Sial. Aku harus apa?
“Ah, iya mas. :)” jawabku kikuk.

Aku lekas bersiap untuk pulang. Melepaskan sepatu kerja, berganti dengan sendal jepit ternyamanku. Kusisipkan sepatu di bagasi motor bersama jas hujan yang sudah lebih dulu berada di sana.

Terimakasih, hujan.
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Kupu-kupu Oranye

google.com Berlari mengejar seekor kupu-kupu berwarna jingga. Warna favoritku, ia menari-nari di antara rimbunnya bunga dekat taman aku…

Djuna

Namanya Djuna, lelaki berkemeja biru yang kutemui siang tadi. Ia karyawan baru di sini. Mejanya berhadapan denganku. Kukira…

Sesekali Menangis

google.com Sesekali menangis tidak apa-apa kan? Tidak perlu menyembunyikan airmata yang mungkin sudah takdirnya harus jatuh. Seiring bertambah…