Cetar Membahana

Bismillah.


Kalau dihitung-hitung udah lama juga ya gak mampir ke blog ini. Kasihan, dirimu sudah banyak debu ‘blog’. Haha. Mumpung ada waktu buat online dan kuotanya ngebutzzz update ah. Hihi. Kali ini edisi curhat mungkin ya. Tentang kejadian hari ini, tentang sebuah pertanyaan yang cukup bikin tercekat dan membuat sakit tenggorokan (kan lagi radang Yu.. –“) ohiya lupa. Hehe. Cekidot aja yaaa. Selamat menikmati hembusan angin syahdu.

Kali ini noted edisi cetar membahana. Berlebihan? Ya, sedikit gapapa kan. Sore ini berjalan seperti biasa setelah mabok dengan powerpoint beserta autoshapes. Hingga pada saat makan malam tiba. Mulanya kami makan seperti biasa. Selalu lesehan berempat, harmonis.
Di sela-sela itu Ibu dan Ayah sedang asyik ngobrol tentang acara kondangan kemarin. Acara pernikahan salah satu keluargaku di Cilandak. Tiba-tiba, my brother yang jail dan rakus itu menyela “Mbak, kalo lo kapan nikah? Haha.” Oh God. –” dia kenapa tiba-tiba nanya gitu? Gatau apa dari kemarin udah mentabah-tabahkan hati dapet banyak undangan.

Seketika jawab “Tahun depan! Puas lo?” Sambil masang wajah bete dan melotot ke arah adik semata wayangku. Seketika “Jeddeeerrr!!!” Petir di luar rumah bunyi dengan kerasnya. Sontak setelah hal itu semua kaget. Dan melihat ke arahku. “Apa?” (Gue kan ga nyuruh petir itu buat bergelegar, dan kenapa pas banget abis bilang tahun depan, ok plis, ini skip aja)
Oke, semua makin mengesalkan. Ayah hanya senyum kecil dan Ibu melanjutkan ceritanya, makin menjadi pula. Ke penghulu segala di omongin. Tapi gapapalah. Anggap aja ini jalan hidup yang harus dijalani. Berjomblo-jomblo dahulu, menikah kemudian. Eh sama siapa? Sama yang Allah takdirkan, biarkan ia kini tanpa sebuah nama. Pasti ada masa ia akan berwujud. Bukan hanya angan-angan.
0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like