Bolehkan Aku Bilang Rindu?

dok. pribadi
Bolehkan aku bilang rindu?
Pada detik yang kadang kita habiskan hanya untuk bicara. Membicarakan banyak hal, tentang usaha kita untuk berubah, tentang keyakinan kita dengan masa depan, tentang harapan kita yang menjulang. Hingga malam berakhir, riuh dengan kicauan kita berdua. Seperti sepasang burung yang menyanyikan lagu dengan merdu. Tak peduli ada yang merasa terganggu, toh mereka tidak menyadari apa yang sebenarnya kita perbincangkan.

Bolehkan aku bilang rindu?
Pada langkah kaki kita yang beriringan. Menapaki satu persatu ruas jalan, menuju satu tujuan. Derap, tetap, lengkap, seperti sepasang sepatu. Kamu dan aku, kanan dan kiri. Tak perlu selalu bersama. Ketika di depan, menjadi panutan. Ketika dibelakang, menjadi penopang. Kadang bersamaan untuk melompat, menguatkan visi, menyatukan langkah.

Bolehkan aku bilang rindu?
Meski hal-hal di atas adalah hal yang kita lakukan masing-masing saat ini. Kita belum dipertemukan. Kita sibuk saling bicara lewat doa, bertemu di ujung sejadah, meninggikan harap pada yang Kuasa. Langkah-langkah kaki kita beriringan, pada dua sisi bersebrangan. Langkah yang belum dipertemukan di penghujung jalan. Meski begitu, semoga tetap saling menguatkan. Walaupun belum tahu seperti apa wujud dan sifatmu, namun sudah tertanam rindu ini sejak lama.

Semoga, kita dikuatkan atas apa-apa yang kita ikhtiarkan.

Depok, 2 Mei 2017
0 Shares:
2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Jadi Historis

Akhir-akhir aku jadi suka membuka-buka file lama. Entah itu berupa tulisan atau foto. Membuka itu semua bagai menarikku…

Serpihan Itu

Waktu berjalan cepat, bahkan terlalu cepat. Hingga tak kusadari rongga-rongga hati yang dulu pernah terisi, kini tiada lagi.…

Itu..

16 Januari 2013 huh, benjolan itu tak kunjung mengecil, semakin paten saja bersarang di bawah hidungku… mengganggu sih…