Aku Kecewa, Wajarkah?

Pagi itu, dalam keheningan malam handphoneku berdering. Terdengar isak yang tertahan disana. Sahabat lama yang kuanggap seperti saudariku. Dia menganggap aku seperti kakanya sendiri. Ia memulai kisahnya dengan mata yang basah sepertinya.

“Assalamualaikum ka”
“Waalaikumussalam, ada apa dek telepon jam segini? Ada yang ingin kau sampaikan?”
“Aku kecewa ka, wajarkah?”
“Kecewa pada apa?”
“Pada sebuah rasa yang terlanjur berkembang ka”
“Hmm”
“Kok hmm doang ka?”
“Kamu ini, tahajjud dulu sana”
“Sudah ka, aku belum sepenuhnya lega”
“Hmm”
“Kok hmm lagi ka?”
“Kamu benar-benar ingin tahu jawaban kaka?”
“Hmm, iya lah ka, buat apa aku telepon kaka sepagi ini?”
“Baiklah, tidak ada yang perlu kaka tanggapi dek”
“Lho kok? Kaka udah ga peduli sama aku lagi?”

Tuuuuutt.

Seketika telepon putus disana. Kali ini aku coba telepon balik.

“Dek, kenapa ditutup teleponnya?”
“Habisnya, aku sebel sama kaka. Aku kan mau denger tanggapannya”
“Hmm”
“Tuh kan, aku kesel deh”
“Udah ah jangan sebel-sebelan. Maksud kaka itu supaya kamu mengerti. Kaka saja yang sudah mengenal dekat dirimu dan jelas-jelas sayang padamu bisa membuatmu kecewa. Apalagi orang diluar sana. Orang asing yang tak pernah kau kenal benar. Kecewa hadir karena terlalu tinggi menggantungkan harapan. Sedangkan harapan yang baik itu tujuannya jelas. Tidak abu-abu.”

Sepi. Hening di sebrang sana.

“Dek?”
“Iya ka”
“Kamu kenapa?”
“Aku gak papa ka, kaka benar. Seharusnya tak kubiarkan harapan-harapan itu muncul liar. Justru kini aku yang nestapa ka.”
“Lebay kamu, belajar sama siapa jadi lebay gitu.”
“Kan kaka yang ngajarin”
“Ealah, kaka nih yang kena”
“Jadi, aku harus gimana ka? Seenggaknya biar rasa kecewa ini berkurang”
“Hmm, dengar ya baik-baik. Kecewa hadir karena harapmu pada insan yang asing. Cukup memohon pada Allah untuk mengikhlaskan hati ini. Karena setiap sesak ada obatnya, mintalah pada Allah.”

Percakapan berlanjut ke motivasi-motivasi lainnya. Ah, motivasi? Aku hanya ingin berbagi cerita pada semuanya.

Inti besarnya jadikan setiap harap yang muncul hanya untuk Allah. Sudah pernah aku katakan padamu. Kekagumanmu pada seseorang itu sifatnya sementara dan seiring berjalannya waktu kekaguman itu akan luntur jika tak pernah terikat. Lebih baik diam dan berharap tak pernah ada manusia yang tahu tentang apa yang terjadi pada diri kita. Fokus saja dengan hal yang seharusnya kita fokuskan.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like

Bukan Takdir Kita

dok. pribadi Langit masih cerah. Seperti warna kemejamu hari ini. Mengingatkanku pada rutinitas kita akhir-akhir ini. Bertemu dalam…